Home » Panggil Aku Kartini Sadja by Pramoedya Ananta Toer
Panggil Aku Kartini Sadja Pramoedya Ananta Toer

Panggil Aku Kartini Sadja

Pramoedya Ananta Toer

Published 1962
ISBN :
Paperback
199 pages
Enter the sum

 About the Book 

Sebuah biografi mengenai pahlawan perempuan Indonesia yang paling terkenal di antara yang lain. Bahkan bangsa ini menetapkan sebuah tanggal untuk mengenang dirinya.Setiap tanggal 21 April, diadakan banyak kegiatan juga untuk mengenang jasa-jasanya. Dia tak mengangkat senjata api ataupun bambu runcing. Dia bersenajatakan pena dan menyuarakan isi hatinya tentang Rakyat Indonesia di dunia internasional. Beliau adalah Raden Ajeng Kartini.Tulisan yang dibuat oleh Pramoedya ini mengenalkan kita lebih dekat dengan sosok Kartini Biografi ini dimulai dengan menceritakan era tanam paksa di Hindia Belanda. Leluhur dari Kartini yang memang bangsawan dan berpendidikan pun diceritakan hingga ada sebuah silsilah sederhana yang menarik tentang keluarga Kartini.Buku ini meluruskan pemahaman saya selama ini mengenai hubungan Kartini dengan ayahnya. Saya kira selama ini, hubungan mereka berdua tidak baik dan begitu tegang. Namun, ternyata Kartini sangat menyayangi ayahnya. Kartini sangat menghormati ayahnya walaupun kadang ia bersikap keras dengan keinginan-keinginan Kartini yang terlalu tinggi bagi kaumnya saat itu.Ada potongan surat mengenai betapa ia memuja ayahnya:”Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepadaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya.”(Surat Jepara 25 Mei 1899, kepada Estella Zeehandelaar)Di buku ini juga diceritakan sosok Kartini sebagai seniwati. Kartini adalah seorang pembatik, pelukis bahkan pemusik. Bahkan di dunia kepengarangan, namanya pun sudah dikenal luas. Sering kali surat kabar ingin memuat tulisan-tulisan Kartini. Walaupun akhirnya kadang tertahan karena dilarang oleh ayahnya. Dilarangnya bukan tanpa alasan tapi karena ayahnya takut pemikiran-pemikiran Kartini lewat tulisannya bisa membahayakan Kartini sendiri dan keluarganya.Kartini mendapatkan sesuatu hal yang jarang didapatkan sesamanya saat itu, pendidikan. Dengan itu aia bisa membaca dan menulis sehingga bisa mengenal jauh lebih luas mengenai negerinya dan dunia internasional pada umumnya. Walaupun ia keturunan bangsawan, Kartini menolak adanya feodalisme di dalam kehidupan rakyat Indonesia. Ia merasa bahwa bukan saja karena Negeri Belanda yang menjajah tapi sesame pribumi pun ikut menjajah sebangsanya sendiri.Dengan feodalisme, sangat mudah bagi dunia barat untuk menjajah negeri ini. Kartini yakin kemajuan rakyatnya dihalangi oleh feodalisme itu sendiri.Saya akan menutupnya dengan sebuah kutipan dalam buku ini pada halaman 287:”Bagi Kartini, Cinta tidak pernah buta. Cinta baginya adalah member-memberikan segala-galanya- dan berhenti memberi apabila nafas berhenti menghembus.”